“Dialog Internasional SDGs dan Permasalahannya: Kolaborasi FISIP UGK dengan Mahasiswa Australia dan Belanda Bersama Yayasan Rumah Impian Indonesia”
Gunungkidul, 25 November 2025 - Universitas Gunungkidul kembali menggelar Dialog Internasional yang bertajuk SDGs dan Permasalahannya (Kerjasama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gunung Kidul dengan Mahasiswa Program Magang Internasional). Dalam acara tersebut turut mengundang mahasiswa Internasional yang meliputi Ruby Nuijens mahasiswa asal Belanda dan Aislinn Mulder yang juga berasal dari Belanda serta Sophie Thomas yang merupakan mahasiswi asal Australia. Turut hadir Bapak Semuel Y.F. Lapudooh yang merupakan pendiri Yayasan Rumah Impian Yogyakarta. Selain itu, acara ini dihadiri pula oleh Rektor Universitas Gunung Kidul Dr. Sugiyanto., S.Sos., M.M. Wakil Rektor I Dr. Septiono Eko Bawono, S.T., M.Sc., M.Eng, serta Wakil Rektor III Dr. Catarina Wahyu Dyah Purbaningrum., S.M., M.Pd. Dekan Fisipol Ibu Rosalia Widhiastuti Sri Lestari, S.Sos, M.Si, dan Kaprodi Pembangunan Sosial Heri Roh Pujiati, Sos., M.Si dan Kaprodi Administrasi Publik Dyah Indrianingsih, S.P., M.Sc. Juga melibatkan dosen dari fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gunung KIdul.

Dialog internasional menjadi tempat untuk mempertemukan mahasiswa dari Gunungkidul dengan mahasiswa internasional yang berasal dari Australia dan Belanda. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan sharing atas permasalahan yang dialami dari beberapa negara yang berbeda dan berkontemplasi untuk menemukan solusinya.
Aislinn Mulder menjelaskan bahwa lembaga non profit (NGO) di Belanda memiliki kuantitas yang cukup banyak. Di satu sisi, hal ini menimbulkan tantangan dikarenakan masyarakat yang kesulitan untuk mengakses layanan atau bantuan sosial yang cocok dengan kebutuhannya. Di Belanda layanan sosial ini memiliki tingkat kompleksitas yang dapat menyulitkan bagi para imigran atau mahasiswa dari luar Belanda, karena terlalu banyak lembaga sosial swasta yang tumbuh di masyarakat. Sedangkan Ruby Nuijens dari Belanda menyampaikan bahwa banyak warga di Belanda yang belum memiliki tempat tinggal, harga rumah sangat mahal dan hampir tidak terjangkau, apalagi oleh warga pendatang/imigran yang sebagaian besar membutuhkan tempat tinggal. Ruby menyukai issu tentang pekerja sosial dikarenakan keluarganya biasa berdikusi tentang masalah - masalah sosial yang terjadi di Belanda. Pemerintah Belanda sendiri membutuhkan kontribusi aktif dari beberapa lembaga melalui edukasi dan sosialisasi secara struktural dan sistematis. Kontribusi aktif ini diperlukan untuk mencapai SDG’S point 16 yaitu Perlindungan dan membangun institusi yang efektif dan akuntabel.
Mahasiswa program studi Pembangunan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gunungkidul turut berkontribusi aktif dalam diskusi dengan mengangkat tema tentang Ketahanan Pangan. Program ini sesuai dengan SDGs nomor satu yaitu No Poverty (Tanpa Kemiskinan) dan SDGs nomor dua yaitu Zero Hunger (Tanpa Kelaparan). Salah satu kegiatan yang diangkat adalah pembentukan Kelompok Wanita Tani (KWT) di daerah Nitikan Barat. Dimana Kelompok ini merupakan salah satu turunan dari program Kabupaten Gunungkidul yang bernama Gerbang Pagi (Gerakan Pengembangan Pangan dan Gizi).

Sophie Thomas mahasiswa dari Australia turut memberikan apresiasi kepada pekerja sosial di Indonesia yang turut berkontribusi aktif dalam penanganan masalah sosial masyarakat. Hadirnya Kelompok Wanita Tani menandakan progresifitas kelompok sosial dalam mengembangkan potensi daerah yang dimiliki. Hal ini selaras dengan SDG’s point 1 dan 2 yaitu Peace, Justice, and Strong Institutions. “Bentuk-bentuk kelembagaan seperti KWT perlu dijaga secara inklusif. Agar nantinya dapat membantu menyelesaikan permasalahan sosial yang timbul di lingkungan masyarakat.” ungkap Sophie.
Dibagian akhir mahasiswa Prodi Administrasi Pembangunan Universitas Gunung Kidul turut menjelaskan terkait regulasi ketahanan pangan sebagai strategi pengentasan Kemiskinan di Kawasan Gunung Kidul. Studi terkait regulasi ini selaras dengan SDGs nomor satu No Poverty dan SDGs nomor dua Zero Hunger. Sebagaimana UU No. 18 Tahun 2012 yang mengatur terkait ketahanan pangan. Maka dapat disimpulkan bahwa Ketahanan Pangan memiliki urgensi yang penting untuk diulas dan direncanakan secara baik.
Dengan diadakannya dialog antar mahasiswa internasional dan mahasiswa Universitas Gunung KIdul, membuktikan bahwa diperlukan sinergi antara penguatan ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan dengan pembangunan institusi yang inklusif. Mahasiswa UGK menunjukkan implementasi SDGs 1 (tanpa kemiskinan) dan SDG’s 2 (tanpa kelaparan) melalui kelompok wanita tani dan kajian regulasi pangan di Kabupaten Gunungkidul sebagai strategi untuk meningkatkan kesejahteraan. Sementara, para mahasiswa internasional menekankan pentingnya relevansi SDG’s point 16 terkait Perdamaian perlindungan dan tata kelembagaan yang efektif dan akses layanan sosial yang adil. Perspektif ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya bertumpu pada program berbasis komunitas semata. Melainkan juga sistem kelembagaan yang kuat dan responsif.
